Copas dari : Mapalista[dot]com
Bagi masyarakat tradisional, menurut Pemikiran Mircea Eliade,1987. Mitos berarti suatu cerita yang benar dan menjadi milik mereka yang paling berharga. Mitos merupakan sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi tindakan manusia, memberikan makna dan niali pada kehidupan ini. Mitos menceritakan suatu sejarah kudus yang terjadi pada waktu primodial, pada waktu mula. Mitos menceritakan bagaimana suatu realitas mulai bereksistensi melalui tindakan makhluk supra natural. Mitos selalu menyangkut suatu penciptaan yang dianggap sebagai eksistensi dunia dan manusia.

Lewat mitos itulah masyarakat jawa mengenal hubungan tak terpisahkan antara gunung merapi, kraton yogyakarta dan Pantai Parangtritis. Masyrakat menganggap, ketiganya adalah pilar harmonisasi kekuasaan politis di tanah jawa. Antara ketiganya, dihubungkan garis imajiner. Barang kali garis itu benar-benar imajiner : tidak ada sama sekali atau benar-benar nyata. Berbentuk sungai misalnya. Bukankah masyarakat mengenal mitos tanpa ngeli-nya Sutawijaya di kali opak?

Jadilah “Masyarakat Jawa” lebih suka menerangkan hanyutnya pasirhasil aktifitas Gunung merapi dibawa aliran Kali Opak dengan tanpa ngeli-nya Sutawijaya. Lalu bertemunya Sutawijaya dan nyai Lara Kidul digambarkan mengendapnya pasir tersebut disepanjang Pantai Parangtritis. Melalui mitos, masyarakt Jawa memahami bahwa dibalik kesatuan Gunungapi Merapi, Kali Opak dan Pantai Parangtritis, sebenarnya ada penciptaan yang fenomental ; gumuk pasir. Ketiganya bukan hanya pilar harmonisasi penciptaan gumuk pasir yang cuma ada di jawa ; Pantai Parangtritis adalah tempatnya.
Pasir dan Gumuk itu…
Gumuk pasir merupakan akumulasi pasir lepas berupa gundukan dimana bentuknya teratur yang dihasilkan oleh arah umum angin yang berkerja pada suatu daerah (Whitten & Brook, 1972). Di Parangtritis terhitung sekitar 189 buah gumuk pasir, terdiri dari jenis Barkhan 67 buah, Longitudinal 79 buah, Parabolik 32 buah dan sisir 11 buah.
Masing-masing jenis gumuk pasir tersebut mempunyai cara pembentukan yang berbeda dan dikontrol factor-faktor yang berbeda pula. Gumuk pasir Parabolik dan sisir dipengaruhi vegetasi yang memotong arah angin tenggara barat laut, sehingga terjadi sedimentasi karena berkurangnya kecepatan angin di belakan vegetasi. Adapun gumuk pasir Longitudinal terbentuk oleh aktifitas yang tertiup dengan kuat (A.K Lobeck,1939 ).
Berdasarkan aktifitasnya, gumuk pasir Parangtritis dapat dikelompokan menjadi 2; Gumuk pasir aktif dan Gumuk pasir pasif. Areal gumuk pasir aktif ( jenis berchan dan longitudinal ) menmpati bagian timur dengan luas sekitar 25% dari luas gumuk pasir yang ada. Di gumuk pasir aktif, proses-proses pembentukanya dapat diamati dan di pelajari dengan baik. Ciri daerah ini adalah sedikitnya vegetasi. Umumnya vegetasi yang ada merupakan tumbuhan liar seperti pandan, rumput grinting dan entong-entongan. Struktur sedimen permukaan (ripple mark ) berkembang baik.
Kawasan gumuk pasir pasif menempati bagian tengah sampai muara Kali Opak. Di daerah ini vegetasinya lebat, seperti Gliriside dan Akasia. Pola tanam penghijauan masyarakat relatif barat-timur dan utara-selatan. Struktur sedimen permukaan tidak berkembang, dan sebagian besar sudah tidak nampal lagi. Vegetasi sangat berpengaruh pada aktifitas sedimentasi, karena angin yang bertiup terhalang vegetasi dan pasir yang ada dibawahnya terlindung dari tiupan angin.
Gumuk pasir, menurut jenis dan bentuknya, dapat dibagi menjadi beberapa macam; gumuk pasir barkhan menempati gumuk pasir aktif. Sedangkan jenis parabolic dan sisir, menempati gumuk pasir pasif.
Pasir dan angin itu…..
Jenis barkhan sering dikenal juga gumuk pasir bulan sabit. Bentuk barkhan memang serupa bulan sabit. Bila dibuat model, pembentukan gumuk pasir “bulan sabit” ini, cukup menarik. Mulanya terbentuk gumuk pasir longitudinal. Bentuk sumbu panjangnya sejajar arah angin. Berikutnya, tubuh gumuk pasir semakin tinggi. Akibatnya, aktifitas arah angin terganggu dan sirkulasi angin berbeda dari arah angin terganggu dan sirkulasi angin berbeda dari arah umum angin. Hal ini menyebabkan penggerusan di bagian belakang gumuk pasir.
Sirkulasi angin di bagian belakang gumuk pasir makin kuat dan ekstrim menyebabkan penggerusan makin intensif. Bentuk menyerupai bulan sabit makin besar dan hampir sama dengan dimensi panjangnya. Bila proses erosi angin di bagian belakang gumuk pasir sudah mencapai titik lanjut, maka bentuk bulan sabit makin ideal. Bentukkan dimensi panjang gumuk pasir semula, menjadi lebih pendek dari dimensi lebarnya.
Di Parangtritis, angin yang bertiup adalah angin musim dan angin pesat. Kecepatannya sekitar 5-15 knot/detik. Angin pesat bertiup sepanjang tahun ini berpengaruh pada dominan dalam pembentukan gumuk pasir. Arah dan kecepatan angin dipengaruhi kondisi topografi, pemukiman dan vegetasi.
Topografi tebing di sebelah timur laut berpengaruh pada arah angin. Arah semula relatif dari selatan ke utara membelok ke barat laut. Pemukiman dan vegetasi di sebelah barat dan bagian utara mempengaruhi kecepatan angin. Terbukti di bagian barat merupakan gumuk pasir pasif dan di sebelah utara tidak ditemukan gumuk pasir.
Pasir dan lahan itu…
Artikel untuk Makrab (malam akrab) Ekskursi tahun 2008




alow yudha, pa kabar?
BalasHapusgmn kuliahnya?
aku org jogja juga, tp udah ga "njawani" alias jawa bgt.. aku malah ga tau mitos2 seputar kota jogja. thx ya infonya..
he,he,he.... yg udah di Jogja... cieee....
BalasHapuswah,,,jd kangen...pengen ke parangtritis lage neh...
BalasHapus@ dee : trims back.
BalasHapus@ bani : horee.. uda di jogja..
@ aphied : kopdar disana yok?
bisa jadi bahan buat KKL 1 ni.. hehe
BalasHapus